Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Oktober 2017

Pikiran

Pikiran kadang membuatku kembali ke masa lampau,  merentet kejadian demi kejadian yang pernah dialami,  hingga menimbulkan perasaan takut untuk menjalani esok hari.  Tapi kadang pikiran membuatku merasa bersemangat untuk menyonsong hari hari bahagia ke depan.  Mimpi mimpi tentang kehidupan yang didambakan. 

Pikiranku kadang membuatku merasa tak berguna. Untuk apa aku menjalani kehidupan seperti ini.  Tapi..  Pikiran kembali mengingatkan tentang pilihan dengan segudang konsekuensinya. 

Aku takut.  Ketika pikiran pikiran sempit menghantaui. Menganggu dalam kebaikan yang selalu diupayakan. 

La haula wa laa quwwata illa billah.  La tahzan innallaha ma'ana. 

Sabtu, 23 September 2017

Donat

Bentuknya memang aneh, mau ke bentuk hati (love) eh gagal, dibilang bundar juga tidak.

Mengenai rasanya, aku bilang enak, sangat enak.. Mau percaya apa tidak.. Terserah..  karna aku yang makan dan menikmatinya.. 😋

Aku pun tau bagaimana melewati proses menyiapkan bahan sampai mengaduk semua adonan hingga kalis. Dan harus bersabar menunggu agar mengembang dan siap untuk digoreng dan diberi taburan sesukaku.

Terlepas apa pendapat kalian yang bilang "diliat bentuknya aja jelek, gimana rasanya?", "ealah..bikin kayak gtu aja belepotan" atau malah ada yang pengen nyicipi dan bilang "sepertinya mudah ya bikin donat sendiri,aku iri, aku pengen"

Hemmm..

Ini donatku.. Aku yang paling tau suka dukanya untuk menikmatinya ✋😄

Sabtu, 09 September 2017

Ayo realisasikan !

Ketika membaca kisah kisah inspiratif, membuatku kembali memikirkan. Apa yang bisa aku lakukan? Bukankah visi hidupku ingin menjadi manusia yang bermanfaat.

Mau realisasi yang seperti apa?

Angan angan cita cita keinginan dan harapan untuk kedepannya memang sudah banyak bercabang.

Ada waktu ketika keinginan itu berputar seperti film yang ingin segera diwujudkan, seketika itupun semangat seperti dilecut. Trus dibuai rutinitas yang membuatku lengah kembali. Karena ya itu.. Tanpa perhitungan atau perencanaan apapun. Nol besar.

Nah.. Entah. Tetap saja, aku meniatkan akan bisa mewujudkan keinginanku. Harus ya. Bismillah.

Rabu, 31 Mei 2017

Angan

Inginku merajut kembali mimpi
Mimpi angan yang dulu kudamba
Sebuah pengabdian tanpa batas
Dalam lingkaran pendidikan
Inginku jadi pendidik
Pengajar bagi anakku
Dan bolehkah?
Anakmu dan anak mereka
26/5/17

Rabu, 19 April 2017

Penerimaan

Tuhan.. Maafkan..

Diri ini memang masih jauh dari kata ikhlas
Masih jauh dari kata penyabar
Dan belum menjadi hambaMu yang bijak

Seringkali memang masih ada prasangka buruk perasaan yang tak mampu dikendalikan
Perasaan yang membuat kecewa

Tuhan..
Kuatkan ketika lemah
Sabarkan atas sikap yang melampaui batas
Dan damaikan hatiku

Damaikan dari
Apa yang seharusnya tak ku lihat
Apa yang seharusnya tak ku dengar
Apa yang seharusnya tak ku lakukan

Engkau yang Maha Tahu
Penerimaan dirilah solusi yang ditawarkan

Hamba mengerti
Inilah mediaku

Menulis.

Akan ada jawaban atas pertanyaan pertanyaan. Karena memang setiap pertanyaan akan selalu berpasangan dengan jawaban (di waktu yang tepat).

Sabtu, 18 Februari 2017

Komplain

Baru nyampe rumah dan ada yang nyari itu wis biasa, apalagi di tanggal hampir 20. Waktu bagi temen temen pemuda  nyetor uang listrik dan beberapa bapak/ibu yang belum bisa bayar di temen temen langsung bayar ke aku karena alasan tertentu.

Minggu pagi ini selepas nganter mas, ada yang nyari. Awalnya nanyain uang listriknya habis berapa. Kupikir mau bayar ditempatku, dan ku sarankan nunggu yang nugas nariki aja sekalian ada struknya karena belum disetor ditempatku.

Tapi ternyata, beliaunya udah bayar di tempat temen pemuda. Dan inti dari beliau nyari aku adalah untuk komplain.

Hemm.

Beliau cerita kalau kejujuran dari temen pemuda itu dipertanyakan. Karena uang kembaliannya belum dikembalikan sampai sekarang tanpa konfirmasi apapun. Baru kali ini beliaunya menemukan anak seperti itu.

Biasanya entah seratus duaratus rupiah tetep ada kembalian, jika gak ada kembalian anak yang lain akan konfirmasi bahwa memang gak ada uang receh. Jika diikhlaskan baru itu jadi hak milik anak tersebut.

Konteks komplain beliau bukan dari seberapa besar uang yang gak dikembalikan oleh anak tersebut, tapi cara dari anak tersebut mengambil yang bukan haknya. Takut akan jadi kebiasaan bagi si anak.

Aku ngerti.

Senin, 13 Februari 2017

3.

Aku ini siapa? Berada di tengah-tengah mereka. Ada rasa sedikit canggung memang. Mungkin nantinya akan menjadi bagian dari mereka. Senyuman dan sambutan hangatnyalah yang menguatkan, memantapkan akan baik baik saja nantinya. Bukankah ini yang  didambakan?

Sabtu, 11 Februari 2017

2.

Masing-masing melakukan hal yang disukai. Percaya saja.

Teringat dialog antara Arini dan Bapaknya di film Surga Yang Tak dirindukan 1 (2015)

"Jadi, kamu serius dengan laki-laki asal Solo itu? Apa kamu yakin dia akan jadi imam yang baik?"

"Siapa sih yang bisa menjamin seseorang itu baik atau tidak kalau bukan kita yang mempercayainya, Pak?"

"Lalu, kamu percaya sama dia?"

"Hmm.. Atas ridho dan izin dari Bapak..

Jumat, 10 Februari 2017

1.

Duh parah kalau udah membanding-bandingkan. Bikin hati gak tenang. Merasa gak nyaman.  Sudahlah berhenti mencari tahu dan menerka nerka. Itu membuatmu tak karuan bukan? Biarlah itu menjadi urusannya?
Biarlah kamu menjadi kamu. Dia menjadi dia.

Rabu, 08 Februari 2017

Kamu

Seringkali kamu ucapkan maaf ketika sibuk kerja bahkan lembur hingga tak mampu memberinya perhatian.

Ucapkan maaf ketika merasa tak memenuhi harapannya.

Meminta maaf ketika minta bantuannya dan merasa itu membuatnya repot.

Merasa salah ketika  ada yang beda dengan sikapnya dan kamu sulit untuk mengerti.

Hingga mungkin membuatmu bertanya, sudah benarkah sikapmu? Harus seperti apa? 

Mmmm

Dia tetaplah perempuan yang suka diberi perhatian dan sanjungan, tetaplah perempuan yang ingin dimengerti, tetaplah perempuan yang ingin didahulukan.

Tapi dia memaklumi ketika kamu lebih memilih menyibukkan diri dalam pekerjaan. Dia tahu, lelakinya itu sosok yang nantinya bertanggungjawab akan keluarga. Apalagi kamu buktikan dengan rasa perhatianmu ke bapak ibumu. Cukup membuatnya terkesima.

Dia akan memaklumi, lelakinya bukan sosok yang sempurna yang  harus selalu mewujudkan semua harapannya. Dia akan melihat, seberapa berusahanya kamu melewati setiap proses untuk mencapai harapan harapan itu.

Dia pun akan memaklumi ketika kamu butuh bantuannya. Dia pun akan senang menjadi sosok perempuan yang bisa berguna untukmu.

Ah, kamu.. Tapi ingatlah, dia tetaplah perempuan.

Sabtu, 28 Januari 2017

Hape hilang

Katanya setiap kejadian itu ada hikmahnya, benarkah?

Sabtu, 27 januari 2017.

Hape ku jatuh. Hilang. Aaah kok bisa ceroboh gini sih. Aku rogoh lagi, saku jaketku. Kosong. Deg. Masih kosong.

Oke, buka tas. Cek apa hape di tas. Tapi, gak mungkin. Aku ingat betul, tadi selepas beli bensin (eceran di warung) aku sempat bales beberapa chat yang ku anggap penting. Lalu, hape ku saku.

Duh dimana? Aku berada di pinggir jalan.

Ah, pasti ini juga udah ditunggu teman-teman yang lain. Langsung ke tempat kumpul atau nyari hape dulu nih?  Seharusnya jam segini udah ngumpul bareng temen2 yg akan ke kaliurang. Acara sabtu pagi sampai minggu siang. Nginep.

Aku putuskan untuk kembali ke tempat penjual bensin. Disitu pemilik bilang kalau tidak tahu ada hape yang ku maksud. Dengan berbaik hati, beliau menawarkan untuk memakai hapenya untuk "misscall" nomerku. Beberapa kali menghubungi akhirnya ada yang angkat.

Di percakapan telepon, ternyata ada yang menemukan hape ku, dan dibawa kerumahnya.Aku disuruh untuk datang kerumahnya. Dusun majegan, mbah gino.

Aku langsung kesana menuju dusun yang dimaksud. Entah secara kebetulan, aku ketemu dengan Pak Muji, Ketua BKM dimana aku sebagai anggotanya, beliau sedusun sama yang katanya menemukan hapeku.

Beliau bilang disini tidak ada yang namanya mbah gino. Duhh. Akhirnya, Pak Muji inisiatif buat misscall lagi nomerku, dua kali dihubungi nomerku sudah gak aktif. Mulai muncul pikiran negatifku. Jangan-jangan...

Beliau tanya-tanya yang lewat, karena posisi kami di jalan pinggir dusun memastikan ada tidaknya nama mbah gino. Dari beberapa orang yang ditanyai, memang tidak ada yang namanya mbah gino.

Aku pasrah. Namun, ada salah satu warga yang mengusulkan untuk lapor ke polres untuk minta dilacakkan posisi sinyal terakhir hapenya.  Katanya beliau pernah melakukan itu.

Emm, entah apakah itu memang lazim dilakukan atau tidak?

Aku pamit pulang dulu. Kalau memang perlu ke polres, mungkin ajak orang rumah aja untuk nemenin.

Perjalanan ke rumah, sampai di persawahan, aku ketemu sepupu sama suami dan anaknya yang hendak ke sawah, aku hadang dia dan menceritakan kejadian hapeku ilang.

Sebelum ke polres, kita pastikan lagi nomerku bisa dihubungi lagi atau tidak. Dan, ternyata nomerku masih aktif. Ditunggu beberapa kali, belum diangkat. Panggilan ketiga diangkat, masih dengan suara ibu-ibu yang tadi. Aku menceritakan kalau aku sudah ke majegan, tapi tidak ada yang namanya mbah gino.

Ibunya bilang, bukan mbah gino mbak tapi mbah ginem. Ya Allah. Muncul lagi secercah harapan.

Kali ini aku mengajak sepupu untuk kesana, menuju rumah yang dimaksud. Kami tanya warga yang di pinggir jalan. Alhamdulillah, memang benar ada yang namanya mbah ginem.

Sampai dirumahnya, kami disambut. Hapenya ditemukan di selatan pabrik tempat aku bekerja. MasyaAllah, masih ada orang yang jujur. Masih rezeki, hapenya balik. Alhamdulillah.

Tanpa diduga, ternyata yang menemukan hapeku udah upload di grup info cegatan jogja. Waaah, berarti beliau memang berniat mengembalikan. MasyaAllah, kereeeeeen. Salutlah. Terimakasih. 

Kamis, 19 Januari 2017

Impian

Masih ingatkah, apa impianmu?

Dulu, waktu masih SD, ingat sekali kalau aku ingin jadi guru. Lebih tepatnya guru matematika. Aku yang paling suka pelajaran berhitung. Apalagi ketika disuguhi soal cerita, seperti tertantang untuk menyelesaikannya, ada rasa puas dan senang ketika mampu menyelesaikannya. Kesenangan itu berlanjut ke SMP. Ada beberapa teman yang menjadi rekan penyuka matematika. Entah takdir membawa kemana, sampai ada satu dua teman penyuka matematika yang pada akhirnya mengambil jurusan matematika sewaktu kuliah. Ah.. Ikut senang.

Bagaimana denganku?

Saat kelas 3 SMP, masa dimana ada pilihan untuk melanjutkan ke SMA ataukah SMK. Tentu lebih memungkinkan SMA jika aku ingin mewujudkan keinginanku. Tapi, jika tak kuliah, bagaimana aku kerja jika lulusan SMA. Bukankah lebih mudah mencari kerja dengan ijazah SMK? Jika SMK jurusan apa yang cocok denganku? Trus dimana?

Akuntansi. Yah, jurusan di bidang ekonomi yang banyak hitung hitungannya, yang kata beberapa orang paling memungkinkan untukku. Dan yang lebih utama, bapak memang menyarankan ke SMK biar langsung kerja, mungkin karena mbak pun juga SMK.

Ternyata, akuntansi tak jauh beda dengan matematika. Angka-angka, permainan logika. Semakin lama, semakin aku cocok dengan akuntansi. Menjadi seorang accountant nantinya? Entah, waktu itu belum kebayang. Masih ingin jadi guru. Guru akuntansi atau dosen. Saat itu, aku senang ketika ada temanku yg bertanya, minta diajarin materi yang bagiku seperti belajar jadi guru, dan dapat tambahan ilmu ketika ngajarin, malah semakin paham.

Sempat beberapa kali ada yang minta di les in, emm belum berani atau takut terbebani ketika ada bayaran. Lebih nyaman tanpa ada ikatan seperti itu, ketika belum paham nanya aja dan gak nuntut apa-apa. Bisa begitu aja udah senang.  Itu prinsipku kala itu. Selain di sekolah, di rumah pun sering ada yang datang untuk belajar. Sekedar tanya PR atau nyiapkan ketika mau ulangan.

Akhirnya, aku mulai beranikan diri untuk mengiyakan privat les dateng kerumah anak. Satu dulu yang kuambil, walau begitu dirumah tetap terbuka untuk siapapun yang mau belajar. Inilah pembuka jalanku untuk masuk di dunia bimbel. Awalnya privat di sekitar rumah, lama-lama jangkauan jarak rumah yang ku les semakin jauh setelah aku tergabung di salah satu bimbel.

Pagi sore bimbel di kerjaan. Sepulang kerja privat ke rumah. Emm.. Aku pengen menuliskan beberapa orang dan rumahnya yang pernah ku datengi ke rumahnya, mumpung masih ingat,,hehee
1. Acha sedusun sama aku.
2. Chrussita dan Rumaysha, rumahnya di soragan godean.
3. Iyus, rumahnya di perum purwomartani kalasan.
4. Angel di karangkepuh.
5. Ryan di jl. Pakuningratan jogja.
6. Namanya lupa, rumahnya sekitar jl. Malioboro, gang masuk.
7. Wisnu dan Pungky, Turgo gede pakem.
8. Vina, jl. Kaliurang km 17.
9. Fantry, mancasan condoncatur
10. Eko , jl.wachid hasyim seturan.

Menyenangkan, aku semakin tahu daerah di sekitar jogja, terpaksa nyari lokasi rumahnya. Waktu itu belum ada google map 😆

Di  tengah kesibukanku les, ada sebersit keinginan untuk lanjut kuliah jurusan akuntansi. Iya, akhirnya aku milih kuliah di kampus yang nyediain program reguler khusus sabtu minggu. Biar bisa sambil kerja di bimbel dan masih bisa les privat.

Berjalan 3 semester, aku kembali merenung, nantinya ketika lulus aku akan jadi apa? Aku kuliah akuntansi tapi menggeluti dunia les.

Akhirnya, aku putuskan untuk nyari kerjaan yang sesuai dengan bidangku. Nyari sebagai staf accounting. Atau staf admin lah, cukup waktu itu pikirku. Alhamdulillah, dapat kerjaan di sebuah konsultan geospasial, aku sebagai staf accounting.

Di waktu ini, aku menikmati kerjaanku, kuliahku dan sesekali masih les privat. Ah, luar biasa waktu itu. Namun, baru berjalan berapa bulan.. Seniorku staf pajak resign. Sebelum dia resign, kita udah banyak cerita tentang pajak. Gimana nantinya jika jadi konsultan pajak. Hemm sepertinya menarik.

Tanpa diduga, aku malah jadi ngurusin pajak. Jadi, banyak belajar tentang pajak.

Ketika kuliah memasuki semester 7, diharuskan memilih konsentrasi. Di jurusan akuntansi ada 3 pilihan yaitu akuntansi keuangan, akuntansi syariah dan perpajakan. Konsentrasi perpajakan merupakan konsentrasi terbaru, baru ada di angkatanku. Berhubung di kerjaan sudah menggeluti pajak, akhirnya aku putuskan konsentrasi di perpajakan. Keputusan ini berdampak pada skripsi yang mengharuskan tentang perpajakan.

Pajak itu nyeremin awalnya. Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Tapi, semakin lama, aku semakim tertarik. Hingga akhirnya pengen jadi konsultan pajak.

Nah.. Sebenarnya apasih impian?

Keinginan yang ingin diwujudkan. Impianku waktu kecil ingin jadi guru, walau bukan jadi guru formal namun terwujud dengan memberikan les dan bentuk pengajaran lain seperti tpa, outbond. Sudah memberi kebahagiaan sendiri. Impian untuk kuliah, akhirnya terwujud. Impian jadi seorang accountan pun terwujud. Impian jadi konsultan pajak, agak sulit merealisasikan karena syarat diakui sudah lulus USKP. Bentuk terwujudnya ketika ada yang nanya tentang pajak, sudah bisa menjelaskan dan setidaknya bisa memberi arahan. Ah, itu cukup . Apalagi sudah nyicipin ngurusin pajak bagi perusahaan jasa dan sekarang perusahaan manufaktur.

Dari impian-impian itulah kita mempunyai harapan. Harapan yang memacu untuk lebih baik dan menguatkan jika dalam pencapaiannya ditemukan kendala. Impian akan terus ada selama kita masih ingin memacu diri.

Lalu, saat ini berada di titik manakah kamu? Apa impianmu selanjutnya? Manakah yang akan kamu wujudkan?

Wallahu alam. Walau kadang, impian lebih ke duniawi. Ada  yang perlu diingat. Tetap jadilah bermanfaat. Khairunnas anfauhum linnas.

Senin, 26 Desember 2016

Tulisan

Tulisan atas sekusut-kusutnya hari ini mungkin akan membuatmu tersenyum ketika membaca ulang, mengingatnya dan lebih lebih ketika mampu melewatinya.

#Senin,26 Desember 2016

Jumat, 23 Desember 2016

Mendaki

Teringat pengalaman mendaki sekitar 2 tahun yang lalu ke Gunung Andong Magelang yang ketinggiannya kira-kira 1726mdpl. Waktu itu sampai lokasi sekitar jam 3an, saat itu turun hujan rintik rintik. Kabut sudah mulai terlihat. Tampaknya cuaca agak tidak bersahabat bagi kami yang ingin menaklukan Gunung Andong. Saat tiba, kami putuskan untuk mampir di sebuah warung makan, mengisi tenaga sekaligus istirahat setelah perjalanan sekitar 2 jam an dari jogja. Kami berbincang tentang kemungkinan batalnya mendaki akibat cuaca. Yaaah, kecewaaa pastinya kalau gagal. Akhirnya kita putuskan untuk ke basecamp pendakian dulu, setidaknya sampai ke basecamp nya lah.

Setelah berbincang dengan pemandu (pananggung jawab basecamp). Mereka merekomendasikan aman untuk tetap mendaki dengan jas ujan karena masih gerimis. Di atas sudah ada 2 rombongan lain yang juga mendaki.

Setelah diskusi, kita memutuskan untuk tetap mendaki namun tidak dipaksakan untuk sampai di atas.. Okelah. Setidaknya kita mencoba mendaki.

Aku melihat ke atas. Masih berharap. Bisakah kami sampai ke atas sana?

Bismillah. Kita tekadkan untuk ke atas bersama-sama, tak ada yang boleh terpencar, harus saling tunggu menunggu. Rute pendakiannya menurutku mudah dilalui dengan medan yang lumayan bersahabat. Bagiku medan di Gunung Andong lebih enak dilalui dibandinglan Gunung Api Purba Nglanggeran di Jogja.

Setelah berjalan sekitar 2 jam, tak disangka kami sampai di puncak. Dan ajaibnya cuacanya terang. Pemandangannya sangat menakjubkan, terlihat sangat segar karena habis hujan.  Di puncak kita dapat melihat beberapa gunung yang berada di sekitar, seperti Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro dan entah gunung apalagj, katanya ada tujuh gunung kalau gak salah.hehee

Merasa beryukur kami bisa menikmati pemandangan di puncak. Merasa sangat beruntung, harapan bisa tercapai, malah kenyataanya yang didapat melebihi ekspetasi pada awalnya. Sudah lunas terbayar segala rintangan yang sempat menghentikam langkah kami pada awalnya. Alhamdulillah.

Malam ini.. Seminggu sebelum pergantian tahun 2017. Entah apa yang akan terjadi tahun depan. Aku seolah berada di kaki gunung. Mendongak ke atas. Di puncak itulah harapan yang diinginkan untuk dicapai. Entah rute mana yang akan diambil dengan segala kemungkinan yang menghadang. Seolah ada tekad untuk mengupayakan setiap langkah pendakian untuk mencapainya. Proses itulah yang akan aku tapaki. Akankah mampu aku mengatasi setiap rintangan demi rintangan nantinya? Akankah di puncak itulah kebahagiaan itu ada? Kurasa menciptakan bahagia di setiap proseslah yang terpenting, karena kita tidak tau senang sedih dari keduanya mana yang terbaik untuk kita. Sudahlah..

Kamis, 22 Desember 2016

Fighting

Maaf..

Jika tak ada secoret namamu di setiap tulisanku
Tak ada cerita yang menceritakan kisahmu
Tak pernah mengupload gambaran dirimu

Walau..

Seringkali sangat ingin memberitau dunia tentangmu
Betapa sangat bangganya telah mengenalmu
Betapa bahagianya telah menemukanmu
Bahkan ingin mengakui kau milikku

Tapi..

Tunggulah sampai hari itu tiba
Saat kita dipersatukan dalam ikatan pasti
Maka, mari semangat mengupayakan
Apa yang menjadi impian kita.. Fighting!!! 💐💐

Senin, 19 Desember 2016

Momen di Pulesari

Kali kedua aku menginjakkan kaki disini, sebuah desa wisata di Turi yang menyediakan paket outbound. Pertama kenal saat ada outbound TABO (Tanggap Bocah) seKecamatan Sleman. Nah, yang sekarang bersama adik adik (anak asuh) Rumah Zakat. 

Aku yang mengusulkan tempat ini, pilihan yang memungkinkan dari beberapa pilihan tempat outbound yang lain. Dari sisi permainan yang ditawarkan yaitu permainan dengan susur sungai yang pastinya menarik bagi anak-anak. Dari sisi lokasi yang mudah dijangkau dan dari sisi biaya yang terjangkau.

Hal yang menarik dari desa  ini adalah dari segi pengelolaan mandiri warga desa menurutku. Sepertinya memang dikelola warga sekitar. Waaaah.. Betapa kerennya kalau memang iya. Ini yang menjadi impian sebagian orang di desaku yang ingin menjadikan desa wisata. Bagaimana tidak, pergerakan roda ekonomi yang merakyat dan menguntungkan semua warga desa. Lihat saja, dengan sekali outbound berapa banyak orang yang merasakan manfaatnya?
1. Trainer outbound mendapatkan penghasilan
2. Rumah yang digunakan untuk transit mendapat prosentase penghasilan
3. Ibu ibu mendapat penghasilan dari hasil menyediakan snack dan makan
4. Dibukanya warung-warung seadanya di depan rumah warga menambah pendapatan warga
5. Karang taruna dan lembaga dusun pastilah terjamin untuk kas masuknya

Dan mungkin masih banyak lagi. Itu baru dari segi ekonomi. Belum dampak sosialnya. Warga desa menjadi punya nilai lebih. Bagaimana mereka terus mengembangkan ketrampilan baik di bidang trainer outbound, pelayanan kepada tamu, pengembangan karakter. 

Ah, rasa rasanya menjadi sangat iri dengan dewi pule ini. 

Tapi aku akan lupakan rasa iri itu dengan bersenang-senang memanfaatkan waktu bersama kedua puluh enam adik adik sajalah. Sebenarnya aku baru mengenal mereka sekitar bulan oktober, aku diajak Pak harjuna untuk membantu mendampingi mereka bersama mb septi.
Pendampingan sendiri biasanya dilakukan di masjid setiap dua minggu sekali dengan pembinaan materi dan pemantaun dari segi ibadahnya meliputi mutabaah shalat, hafalan doa dan hafalan surat serta pemantauan pendidikan formalnya dengan melihat hasil prestasi nilai raport ataupun prestasi non akademik.  Untuk menyeimbangkan pendampingan, dipilihkan outbound untuk merefresh mereka, eh termasuk pendampingnya juga..heheee

Sudahlah cukup ceritanya..  Disini aku ingin mengabadikan  momen kebersamaan bersama mereka, para adik Rumah Zakat di desa yang aku iri-in ini. (tetep iri) 




Minggu, 18 Desember 2016

Blog

Aku mulai mengenal mengenai blog sewaktu smk (mungkin). Waktu itu guru tinkom (Teknologi informasi dan komunikasi) yang memberi arahan muridnya untuk membuat blog, minimal satu artikel yang ditulis di blog yang kemudian masing masing siswa menyerahkan alamat blognya untuk di nilai.

Waktu itu mungkin gak akan kepikiran kalau pada akhirnya aku kembali tertarik untuk membuat akun blog. Ketertarikanku kembali muncul ketika ada teman kerja yang aktif ngeblog dan menuangkan ide-ide nya di blog pribadinya. Entah dia curhat mengenai kesehariannya ataupun share ilmu sesuai profesinya.

Sepertinya menyenangkan, lebih menyenangkan bisa menulis apapun di blog ini daripada menulis status di media sosial.

Blog ini ku buat dengan tujuan bisa mengingatkan kembali apa yang pernah kualami dan untuk melampiaskan waktu senggangku dengan menulis disini.

Awalnya aku berniat untuk menulis hal hal mengenai akuntansi. Aku tuliskan materi kuliah yang aku dapat, keuntungannya ya bisa sambil belajar dan mengingat apa yang kita pelajari.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menuliskan tentang keseharianku. Tentang apa yang aku rasakan, kegiatan yang aku ikuti, dan hal hal yang aku sukai.

Blog ini bisa dibaca siapa saja, entah yang aku kenal maupun yang tidak dikenal secara langsung.

Pernah sekali aku pasang alamat blog ini di facebook, entah takdir atau apa, ada yang tertarik membuka blog ku. Disinilah dia mulai mengenalku, lebih mengenalku dibanding apa yang aku tulis dan share di media sosial facebook.

Aku pun juga. Aku menjadi salah satu langgangan pembaca setia setiap postingannya di blog pribadinya.

Melalui blog, kami seperti saling menggali informasi. Lewat tulisan-tulisan sederhana ini, kita jadi tau karakternya, bagaimana dia menyikapi setiap proses hidupnya, arahan hidupnya, visi misinya, dan kesukaanya.

Terimakasih telah menyempatkan waktumu untuk menulis blog, terimakasih telah membaca blogku. Terimakasih telah mau maunya mengenalku, walau kamu tau aku suka drama korea namun tenang kisahku tak seperti kisah drama.hehee..

Menikmati antrian

Bagi kalian yang berkecimpung di dunia pajak. Pastilah sudah biasa dengan rutinitas lapor melapor spt masa maupun tahunan di kantor pelayanan pajak setempat. Sudah biasa juga ketika mendapat nomer antrian yang lumayan lama, dan akan mulai hafal di tanggal berapa antrian itu akan menjadi sangat lama, tentunya di tanggal-tanggal akhir pelaporan. Untuk PPh 21 misalnya, batas waktu pelaporan di tanggal 20, maka akan rame di tanggal sekitar tanggal 19 dan 20. Sebenarnya aku pun menghindari pelaporan di tanggal tsb, di tanggal 19 seperti sekarang, tapi apa daya, kebijakan pengajuan pembayaran dan pelaporan yang agak sedikit rumit alur dokumen di perusahaan sekarang lumayan memakan waktu. Akhir-akhirnya siap lapor di tanggal yang hampir mepet.

Tapi sudahlah, aku akan menikmatinya. Kau tau kenapa? Mungkin saat saat inilah yang akan kau rindukan nantinya. Saat posisi ini tak lagi untukmu. Saat ada kewajiban lain yang lebih kau utamakan. Saat ada hal yang kau prioritaskan dibanding kerjaan. Mari menikmati antrian ini. 😀

Kamis, 17 November 2016

Senang

Aku senang. Merasa beruntung. Entah kenapa aku juga bingung. Nyaman aja rasanyaa.
Apa penyebabnya aku juga gak ngerti pasti, yang jelas sampai tengah hari ini aku merasa tak terbebani.
Bangun pagi tadi dengan rasa senang. Dilanjut beberes rumah. Pagi tadi bekal makan dimasak sendiri yang seringnya beli. Serasa nikmat kurasa klau bekal itu masakan rumah sendiri.(read :masakan mbak)
Sampai kantor.. Atasan nyampein kalau perlu buat stock opname di gudang raw material pagi ini.  Terkadang kerjaan buat stock opname adalah pekerjaan yang pengen dihindari. Pagi-pagi udah nyampe gudang ya, pikirku. Tapi tak apalah lagian juga didampingi atasan.
Tak diduga, stock opname berjalan dengan menyenangkan. Ada selisih itu wajar.. Perlu kroscek dan telusur itu pasti.. Tapi, Tuhan, kenapa aku tetap sesenang ini, tak seperti kemarin-kemarin yang langsung kusut, carut marut ketika nemuin selisih yang tak kunjung ketemu penyebabnya. Kenapa aku setenang ini. Senyaman ini perasaannya. Ada apa, Tuhan?
Mungkin, aku baru sadar. Banyak hal yang perlu aku syukuri. Nikmat bersama keluarga. Nikmat sehat. Nikmat di pekerjaan. Dan nikmat dipertemukan dengan orang hebat yang menjadi penguat. Di luar sana mungkin, ada saja yang berharap ada di posisiku. Walau mereka hanya melihat luarnya saja tanpa tahu prosesnya.
Walau pastinya, setiap orang itu punya ujiannya masing-masing. Tergantung bagaimana dalam menyikapinya.
Tuhan, terimakasih. Masih ada rasa sesenang  ini yang aku alami. Semoga dalam keadaan apapun, aku tetap mengingatMu.

Sabtu, 12 November 2016

Seimbang

Pagi di hari minggu yang cukup selo, duduk selonjor dengan mata menatap layar HP dan jari tangan beradu cepat menekan tombol di keypad.   Aku baru saja menyempatkan untuk lari pagi. Udah yang kedua kalinya. Wacana yang lagi diusahakan menjadi rutinitas.
Baru saja tersadar,
Aku butuh olahraga.
Aku butuh memanjakan mata.
Aku butuh energi positif.
Aku butuh kamu. Eh 
Ah, udah lama menyibukkan diri tanpa diimbangi olahraga, minimal lari lah seperti dulu.
Ditambah, tiap pagi sudah riweh ini itu.. Trus ketika kerja pikiran wis sepaneng, konsentrasi full.. ketika pulang kerja pun ada agenda yang menguras pikiran. Begitu terus rutinitas yang dijalanin. Itu berlaku juga di hari minggu.
Lari bisa jadi salah satu penyeimbang tubuh dalam rutinitas kerja yang ekstra padat dengan beban pikiran yang menguras tenaga dan dalam kondisi "sepaneng". Entahlah, kurasa tubuh pun butuh penyeimbang. Sakit, mungkin jadi indikasi ketidakseimbangan.
Seimbang.
Dalam dunia akuntansi dikenal dengan Balance. Antara debet dan kredit harus balance. Di bagian neraca, aktiva dan pasiva harus balance. Balance aja belum tentu mencerminkan hasil yang akurat apalagi belum balance. Bikin pusing, ketika harus mencari sumber ketidakseimbangan. Perlu ditelusur, di trash back kesemuanya itu. Perlu dilakukan vouching antara dokumen dan pencatatan. Butuh waktu, dan pemahaman ekstra untuk menyeimbangkannya. Hal itu dilakukan demi tersajinya laporan keuangan yang bernilai bagi yang berkepentingan. Bernilai. Value.
Begitu pula dalam hidup, untuk menjadi seseorang yang bernilai, butuh keseimbangan. Keseimbangan antara jasmani dan rohani. Keseimbangan antara kerja dan olahraga.
Maka dari itu, sehat sehat ya badan dan pikiran, agar menjadi pribadi yang bernilai.